Kita Satu, Kita Sama, Kita Setara, Satu Tujuan: Indonesia

Ulah Tirza dan Harunya Perekaman E-KTP di Panti Anak Berkebutuhan Khusus

Relawan dan Ketua IKI dengan telaten membujuk Tirza untuk Direkam

"Ayo Tirza, Tirza, lihat sini, lihat sini. Ayo cah ayu..." terdengar suara teriakan bersahut-sahutan, diarahkan ke sosok bocah yang duduk di kursi, menghadap kamera. Teriakan berkali-kali, diucapkan bergantian oleh beberapa orang yang mengelilinginya, seakan-akan menguap begitu saja.

Sebagian ada yang mengusap-usap kepalanya, sembari merayu sang bocah, agar bersedia menatapkan wajahnya ke arah kamera yang sedari awal terus di-on-kan. Bukan mengarahkan wajah ke kamera, yang dilakukan Tirza justru berlawanan dengan yang diperintahkan. Ia menekuk wajahnya ke arah perut dengan posisi setengah membungkuk, dan sesekali menutupkan telapak tangannya ke wajah.

Setelah memakan waktu hampir setengah jam dan tidak membuahkan hasil, upaya ini dihentikan. Giliran anak yang lain yang direkam. Tirza, bocah perempuan usia kira-kira delapan tahun, kamis siang (12 Des) kemarin nyaris membuat frustasi sekitar 15 orang petugas Dukcapil Kabupaten Tangerang beserta Relawan IKI (Institut Kewarganegaran Indonesia).

Sejak pukul 10 di Panti Asuhan Citra Bhakti Mulia yang berada di kawasan perumahan Citra Raya Tangerang, diadakan perekaman untuk pembuatan e-KTP, KK dan KIA (Kartu Identitas Anak). Tirza termasuk salah satu dari sekitar 200 anak yang menghuni panti asuhan ini.

Melakukan perekaman untuk penerbitan e-KTP sebenarnya merupakan pekerjaan yang mudah saja. Petugas perekaman tinggal mengambil gambar wajah, merekam iris mata dan mengambil sidik jari. Paling lama dibutuhkan waktu 2-3 menit untuk setiap orang. Tapi kali ini petugas Dukcapil Kabupaten Tangerang tampak begitu kerepotan melakukan perekaman. Karena yang dihadapi adalah anak-anak yang menderita cacat ganda. Untuk merekam 27 anak, diperlukan waktu tiga jam lebih. Malahan untuk seorang Tirza petugas perlu waktu satu jam lebih.

Bayi-bayi yang Diterlantarkan Panti Asuhan Citra Bhakti Mulia bukan sembarang panti asuhan sebagaimana umumnya panti. Panti ini khusus menampung dan membina anak yang mengalami kecacatan ganda dan anak-anak yang tidak diketahui asal-usulnya. Sebagian dari mereka, termasuk Tirza, dulunya adalah bayi-bayi yang dibuang oleh orangtuanya di sembarang tempat.

Tirza yang bertubuh kurus, dulu ditemukan warga di dekat rel di stasiun Kebayoran Lama. Mengenaskan sekali. Menurut Suster Yustin, sekujur tubuh bayi Tirza ketika ditemukan penuh luka. Banyak bekas sundutan rokok di wajahnya. Astaghfirullah. Entah setan apa yang merasuki jiwa orang yang tega menganiaya bayi tidak berdosa itu. Tirza tumbuh berkembang dan mengalami kelainan mental. Oleh susternya Tirza didaftarkan paling awal untuk direkam.

Perangai dan ulah anak-anak di panti asuhan ini memang bermacam-macam. Maklum, mereka mengalami kelainan dan kecacatan ganda. Tetapi sang suster sudah mahfum kalau perilaku Tirza jauh lebih susah dikendalikan dibanding anak asuh yang lain.

Selang beberapa saat, dicoba lagi untuk kali kedua dilakukan perekaman terhadap Tirza. Petugas Dukcapil, dibantu suster dan para relawan IKI, mengajak Tirza kembali duduk di kursi, menghadap kamera. Rupanya mereka hanya berhasil mengajak Tirza duduk di depan kamera. Giliran akan dimulai proses pemotretan, lagi-lagi Tirza berulah. Ia meronta-ronta, sambil meneriakkan kata-kata yang kurang jelas apa maksudnya. Dengan penuh kesabaran, beberapa petugas secara bergantian mencoba menaklukkan Tirza, dengan berbagai cara. Berkali-kali juru potret memindahkan posisi kameranya, mengikuti ke mana tubuh Tirza digerakkan. Kepalanya terus bergoyang-goyang. Demikian juga pemegang kain warna biru yang menjadi background pemotretan.

"Jangan dipaksa Pak. Anak ini kalau dipaksa justru makin memberontak," kata Suster Yustin, setelah melihat susahnya petugas Dukcapil membujuk Tirza. Upaya yang kedua ini berakhir dengan nihil. Perekaman untuk Tirza dihentikan, dan digantikan anak yang lain yang sedari tadi melihat ulah Tirza dengan ekspresi yang datar dan biasa-biasa saja. H. Joko Sartono, Kasi Pendaftaran Penduduk, tampak geleng-geleng kepala menyaksikan ulah Tirza.

Jarum jam menunjukkan angka 03 (sore), ketika ke 26 anak sudah selesai direkam. Tinggal Tirza seorang. Sebagian petugas Dukcapil sudah tampak membenahi perlengkapan perekaman. Mereka siap-siap pulang, setelah diselimuti rasa pesimis bahwa Tirza bisa direkam. Dengan nada agak berspekulasi, tiba-tiba peneliti utama IKI, Prasetyadji, meminta saya untuk ikut membujuk Tirza.

Mula-mula saya membujuk Tirza dengan uang, sembari saya mengeluarkan uang limapuluhribuan dari dompet. Ternyata tak bergeming. "Anak ini tidak tahu uang Pak," ujar Suster. Kemudian saya ambil jagung rebus yang tersaji di atas meja dan saya tawarkan ke Tirza. Ternyata ia mengangguk. Ketika jagung mau saya sodorkan ke tangannya, dengan cepat Tirza menyorongkan mulutnya. Ia minta disuapin.

Dua relawan IKI, Aping dan Siswoyo, menyodorkan kue yang berbeda. Dengan pancingan jagung rebus dan kue yang disorongkan ke depan wajah dalam posisi sejajar dengan posisi kamera, berkali-kali juru potret memencet tombol kameranya. Ternyata tidak ada yang berhasil.

Semua orang mengerumuni Tirza, dengan melakukan gerakan dan upayanya masing-masing. Selain ada yang menyodorkan kue, sebagian lagi bertepuk tangan sambil memanggil nama Tirza agar mau mendongakkan wajahnya ke arah kamera. Yang lain menjadi supporter. Kegiatan membujuk ini berlangsung lumayan lama.

Entah berapa puluh jepretan kamera diarahkan ke wajah Tirza, tetapi di layar komputer yang tersambung ke kamera mengisyaratkan kalau pemotretan tidak berhasil. Dalam suasana mulai frustasi itu, tiba-tiba salah satu jepretan kamera berhasil merekam wajah Tirza dengan baik. Tampak di layar komputer wajah Tirza, dengan iris mata yang kelihatan jelas.

"Prok-prok-prokkkkk," terdengar tepuk tangan meriah, memecah keragu-raguan, sore kemarin. Semua orang yang mengelilingi Tirza tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Lengkap sudah 27 anak berhasil direkam. Mendengar tepuk tangan dari orang-orang yang mengerumuni, wajah Tirza tampak datar. Ia terdiam.

Mungkin saja dalam batinnya ia bergumam, "Orang-orang ini koq kayak anak kecil saja. Tepuk tangan dan cekikikan." Penanggung jawab Panti Asuhan Bhakti Luhur, Suster Yustin, tidak bisa menutupi rasa harunya dengan kegiatan ini.

"Kami sangat bersyukur dan berterima kasih kepada IKI yang peduli kepada anak-anak yatim piatu yang cacat ganda ini. Semoga menjadi berkat bagi kita semua," ujarnya.

Terbitnya Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 tahun 2016 telah melindungi anak-anak yatim piatu yang orang tuanya tidak diketahui untuk diakui dan mendapat perlindungan hukum sebagai warga negara Indonesia. Kini anak-anak yang tidak diketahui asal-usulnya bisa dengan mudah mendapatkan dokumen kependudukan, utamanya akta kelahiran, KTP dan KIA.

Rombongan IKI dan relawan, serta petugas dari Dinas Dukcapil Kabupaten Tangerang kemarin sore kembali ke rumah dengan wajah berseri, berhias pengalaman menarik yang jarang ditemui. (IKI/SM)

____________________________________

Ditulis oleh: Saifullah Mahsum (Ketua II IKI)

Add new comment

Plain text

  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.
CAPTCHA
This question is for testing whether or not you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.
4 + 15 =
Solve this simple math problem and enter the result. E.g. for 1+3, enter 4.

Berita

Sekjen MPR RI Apresiasi IKI Terbitkan Buku Risalah Pembentukan UU Kewarganegaraan
Begini Cara Kerja Mesin Anjungan Dukcapil Mandiri
Saatnya Disdukcapil di Daerah Menyediakan Anjungan Dukcapil Mandiri
IKI dan DISDUKCAPIL Yanling di SOSPAM Kota Cilegon
Kasatpel Capil Kel. Pegangsaan didampingi Staf IKI mendampingi Bunari & Wagiyem dalam pengurusan dokumen kependudukannya.
Perjalanan Terjal Wagiyem Berburu Dokumen Kependudukan

Copyright © 2016.Institut Kewarganegaraan Indonesia, Wisma 46, Lantai 14, Ruang 14-16, Kota BNI, Jl Jenderal Sudirman Kav. 1, Jakarta Pusat (10220).