Kita Satu, Kita Sama, Kita Setara, Satu Tujuan: Indonesia

Relawan IKI Sragen Ringankan Beban Warga Minoritas

BU sherly Menerima KK yang diperbarui dan Akta lahir anaknya dari Pak Parmin relawan IKI

Terlihat mondar mandir dan harap-harap cemas seorang ibu muda berparas cantik dengan memegang stop map di tangannya di sebuah Taman Kota Sukowati, Kab Sragen sore itu (21/9/10). Ia adalah Sherly Lushiyana perempuan warga negara Indonesia etnis Tionghoa yang saat ini berdomisili di Sragen.

Dari kejauhan terlihat seorang lelaki yang melambaikan tangan ke arah bu Sherly, yang dibalas dengan senyum ramah dan anggukan, mengisyaratkan bahwa mereka sedang menunaikan janji berjumpa.

"Hai bu Sherly," sapa lelaki itu, dan ternyata dia adalah pak Parmin relawan dari IKI (Institut Kewarganegaraan Indonesia) yang akan membantu pengurusan dokumen kewarganegaraan atau dokumen kependudukannya.

Wanita kelahiran Sragen, 7 April 1992 berdarah Tionghoa itu minta tolong untuk dibuatkan akta kelahiran untuk anaknya, perubahan data KTP dan KK menyusul peristiwa duka yang belum lama ini dialaminya, beberapa waktu yang lalu suaminya meninggal dunia. Kini ia telah menjanda, itu berarti Sherly harus memperbarui data status perkawinannya dalam administrasi kependudukan.

Karena kerepotan dalam kesehariannya berjualan kelontong, Sherly tidak bisa mengurus sendiri dokumen kependudukannya. Kebiasaan yang terjadi di masyarakat, ketika kerepotan untuk mengurus administrasi kependudukan atau dokumen penting lainnya, pada umumnya mengandalkan layanan biro jasa atau jasa calo dengan konsekwensi membayar jasa tersebut dengan nilai yang sering kali tak bisa dibilang murah.

Beruntunglah ia bertemu dengan relawan IKI, pak Parmin. Ia pun memohon uluran tangan dari relawan IKI tersebut untuk pemuktakhiran data dan penerbitan dokumen kependudukannya Juga untuk pembuatan akta kelahiran untuk anaknya sebagai bukti otentik status kewarganegaraan bagi si anak.

Sejak ditinggal oleh suaminya, Sherly tinggal dengan Javelin Hillary Wongkar bayi kecilnya yang lahir 28 Juni 2019 lalu. Ia harus menjalani hidupnya tanpa ayah dari wongkar, betapa sibuknya Ia sendirian harus wira-wiri mengurus usaha toko kelontongnya sambil merawat anak yang masih bayi.

Tentu banyak kita dengar cerita bagaimana masyarakat terjebak layanan calo yang katanya memudahkan tapi nyatanya justru membebani dan tidak jelas kepastian penyelesaian dokumen yang mereka butuhkan. Terlebih di era orde baru dahulu, bagaimana warga keturunan Tionghoa dalam urusan dokumen kependudukan sering kali dipertanyakan status kewarganegaraannya, dipertanyakan kepemilikan SBKRI-nya lalu ujung-ujungnya harus membayar biaya tertentu agar urusan dokumen kependuudkan ataupun kewarganegaraanya bisa beres dengan segera.

Tetapi saat ini, sejak diberlakukannya UU Adminduk tahun 2006 hal-hal semacam itu tak perlu terjadi lagi. Terlebih lagi ketika masyarakat di beberapa daerah dampingan IKI bisa bertemu para relawan IKI yang berkomitmen untuk membantu masyarakat dari latar belakang dan golongan apapun, tanpa pamrih.

Seperti yang dialami Sherly yang benar-benar merasa terbantu dengan kehadiran relawan IKI. Ia yang tadinya kebingungan dan ragu bagaimana mengurus dokumen-dokumen tersebut, juga khawatir akan dikenai banyak biaya jika lewat calo. Tetapi setelah bertemu relawan IKI, solusi pun ia dapati. Sherly pun dengan gembira mengucapkan terima kasih kepada Yayasan IKI yang sangat meringankan bebannya sehingga ia dan anaknya memiliki dokumen kependudukan tanpa harus bersusah payah sendirian. 

Pak Parmin pun dengan segala keiklasan membantu meski banyak dokumen yang perlu dilengkapi dan dikoreksi, tidak cukup dua atau tiga kali proses koreksi data dan harus bolak-balik ke kantor Disdukcapil Sragen.

Setelah menunggu selama sepekan dengan penuh harap, betapa senangnya Sherly sore itu (29/9/10) saat melihat relawan IKI Sragen menyambangi rumahnya dengan membawa Akte Kelahiran untuk anaknya, KIA, KTP dan KK yang sudah dirubah datanya dari status menikah menjadi berstatus Janda dengan keterangan cerai mati. (IKI/ish/adj).

Add new comment

Plain text

  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.
CAPTCHA
This question is for testing whether or not you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.
1 + 0 =
Solve this simple math problem and enter the result. E.g. for 1+3, enter 4.

Berita

Begini Cara Kerja Mesin Anjungan Dukcapil Mandiri
Saatnya Disdukcapil di Daerah Menyediakan Anjungan Dukcapil Mandiri
IKI dan DISDUKCAPIL Yanling di SOSPAM Kota Cilegon
Kasatpel Capil Kel. Pegangsaan didampingi Staf IKI mendampingi Bunari & Wagiyem dalam pengurusan dokumen kependudukannya.
Perjalanan Terjal Wagiyem Berburu Dokumen Kependudukan
Muhaimin: TKI Wajib Memiliki Akta Kelahiran

Copyright © 2016.Institut Kewarganegaraan Indonesia, Wisma 46, Lantai 14, Ruang 14-16, Kota BNI, Jl Jenderal Sudirman Kav. 1, Jakarta Pusat (10220).