Kita Satu, Kita Sama, Kita Setara, Satu Tujuan: Indonesia

Manfaat KIA yang "Tersunat"

Penerima Manfaat KIA yang Jumlahnya Semakin Menurun

Presiden Jokowi telah menabuh genderang perang terhadap korupsi. Korupsi kelas kakap ditangani lembaga penegak hukum seperti KPK dan yang kelas ecek-ecek disiapkan Tim Saber Pungli.

Tapi beranikah kita memastikan catut mencatut di negeri ini sudah hilang dari permukaan bumi Pertiwi?

Jika kita mengira demikian, cobalah simak temuan tim IKI berikut ini.

Namanya Mulyadi, 50-an tahun. Pada awal Oktober lalu warga Desa Nggawanan Kecamatan Solomadu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah ini ikut hadir di acara pelayanan keliling (yanling) dokumen kependudukan yang dilaksanakan Dinas Dukcapil Kabupaten Karanganayar, bekerjasama dengan IKI. Ia hadir bersama istri dan salah satu anak bungsunya ke balai desa, tempat kegiatan yanling.

Dengan sabar ia duduk di kursi tunggu, menunggu giliran dipanggil oleh petugas. Mulyadi mengurus KIA (Kartu Identitas Anak) bagi si bungsu. Sepanjang waktu menunggu ia terus-terusan menghisap rokok kreteknya. Wajahnya tampak riang.

Ketika tim IKI iseng-iseng menanyakan kenapa mengurus KIA bagi anaknya, dan apa manfaat KIA, Mulyadi menjawab dengan tangkas.

Menurutnya, dengan memiliki KIA anaknya bisa mendapatkan banyak bantuan dari Pemda. Ada Program Kesejahteraan Anak (PKA) yang besarnya bantuan Rp 450.000 per anak yang diberikan setiap tiga bulan. “Ugi uwos, kaleh kilo (juga beras dua kilogram, pen.),” tutur Mulyadi.

Bapak tiga anak ini terus bercerita tentang KIA dan berbagai fasilitas yang didapat sang anak pemegang KIA. Ujug-ujug Mulyadi mengungkapkan uneg-unegnya. “Sing aneh niku, artone koq terus sudo...sudo...sudo (yang aneh itu uangnya koq terus berkurang),” tuturnya, dengan mimik sedikit tersenyum.

Maksudnya berkurang bagaimana?

Sembari membetulkan posisi duduknya, Mulyadi yang didampingi istrinya bercerita kalau awalnya uang itu diterima utuh Rp 450.000. Dia dan warga lain yang menerima uang PKA mengambil langsung di bank.

“Belakangan kami nggak boleh ambil sendiri ke bank. Pengambilan akan diurus petugas dari Desa,” ujarnya sambil tetap tersenyum.

Sejak itu Mulyadi menerima uang bantuan PKA untuk anaknya tidak lagi utuh Rp 450.000, melainkan hanya Rp 250.000.
Jika ada bencana alam yang terjadi, entah di mana, serta merta uang dipotong Rp 100.000 an.

“Ya kulo-kulo niki ya ikhlas kemawon. Tapi mbok enggih matur rumiyin bilih bade wonten potongan (Ya kami ini ikhlas saja. Tapi mbok ya dibicarakan dulu kalau akan ada pemotongan),” tambah Mulyadi.

Proses pemotongan terus berlanjut. Setelah sukses dilakukan pemotongan sebesar  hampir 45% tanpa protes dari warga, terjadi pemotongan lebih besar lagi.
“Lah ndek wingi kulo nerami kantun satus selangkung ewu (Lha bulan kemarin saya terima hanya seratus dua puluh lima ribu rupiah),” tutur Mulyadi. Dari jatah Rp 450.000/anak yang diterima tinggal Rp 125.000.

Menurut Mulyadi, warga yang menerima bantuan ini dibagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri atas 30 orang.

Anggota kelompok diharuskan ikut rapat-rapat, yang tempatnya berpindah-pindah. Mulyadi tidak mengerti, kenapa uang bantuan jumlahnya terus menyusut.

 “Sesudah menerima uang yang jumlahnya tidak banyak itu kami harus mengikuti rapat-rapat,” tuturnya.

Orang tua tampak antusias mengurus KIA untuk buah hati mereka. Selain untuk pendataan administrartif jumlah anak, berbekal KIA orang tua bisa mendapatkan manfaat sosial, berupa bantuan rutin dari Pemda. Dan  kini bantuan rutin dari Pemda itu terus dipotong oleh oknum di bawah, sehingga nominalnya, meminjam istilah Mulyadi, terus sudo...sudo...sudo..KIA ternyata juga memberikan “keuntungan” bagi oknum petugas di Desa. (IKI/sm)

Add new comment

Plain text

  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.
CAPTCHA
This question is for testing whether or not you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.
1 + 7 =
Solve this simple math problem and enter the result. E.g. for 1+3, enter 4.

Berita

Begini Cara Kerja Mesin Anjungan Dukcapil Mandiri
Saatnya Disdukcapil di Daerah Menyediakan Anjungan Dukcapil Mandiri
IKI dan DISDUKCAPIL Yanling di SOSPAM Kota Cilegon
Kasatpel Capil Kel. Pegangsaan didampingi Staf IKI mendampingi Bunari & Wagiyem dalam pengurusan dokumen kependudukannya.
Perjalanan Terjal Wagiyem Berburu Dokumen Kependudukan
Muhaimin: TKI Wajib Memiliki Akta Kelahiran

Copyright © 2016.Institut Kewarganegaraan Indonesia, Wisma 46, Lantai 14, Ruang 14-16, Kota BNI, Jl Jenderal Sudirman Kav. 1, Jakarta Pusat (10220).