Kita Satu, Kita Sama, Kita Setara, Satu Tujuan: Indonesia

Kemandirian yang Bermartabat

Para relawan dan Peneliti IKI bersama para penyandang tunanetra di Yayasan Himatra Indonesia Sejahtera

Kelahiran dan kematian adalah milik Tuhan. Tidak ada anak yang ingin dilahirkan cacat, karena kecacatan phisik bisa mempengaruhi perkembangan kejiwaan baik anak yang bersangkutan maupun orang tuanya.

Namun, tidak demikian dengan saudara saudara kita yang bermukim di wilayah Pondok Cabe, Serpong, Pondok Aren, Ciputat, dan daerah lainnya di wilayah Kota Tangerang Selatan.

Mereka adalah orang orang yang berjiwa besar, tangguh, tidak mudah menyerah terhadap keadaan yang cukup keras di Jabotabek ini.
Mereka berjuang untuk hidup mandiri, tidak bergantung dengan orang.
Mereka tidak mau hanya menerima belas kasihan orang.
Mereka berusaha keras, memeras keringat untuk mendapatkan rejeki halal.

Ada yang menjadi tukang pijat, ada yang menjadi pengamen, ada pula yang berjualan krupuk sambil berjalan menyusuri kampoeng satu ke kampoeng yang lainnya dengan bantuan tongkat sebagai petunjuk jalan.
Kalau kebetulan Anda bertemu mereka berjalan berjualan krupuk dengan bantuan tongkat di wilayah Tangsel, itu adalah warga Tunanetra yang berusaha mandiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Pak Lagino asal Wonogiri* yang sejak kecil sudah tunanetra, adalah sosoknyang merintis jualan krupuk sambil berjalan berkeliling. Tidak menyerah dengan kehidupannya, pak Lagino mengikuti kursus resmi pijat, dan *sekarang menjadi tukang pijat handal yang cukup banyak pelanggannya.

Mereka sadar bahwa tanpa perjuangan dan persatuan sesama penyandang disabilitas, mereka tidak dapat meningkatkan penghidupannya. Didasari rasa kebersamaan yang tulus sebagai senasib dan sepenanggungan setelah 10 tahun bersama dalam satu wilayah, akhirnya mereka bersepakat secara fornal mendirikan sebuah yayasan yang bernama: YAYASAN HIMATRA INDONESIA SEJAHTERA, yang disahkan Menteri Hukum dan HAM Nomor AHU.0020424.A.H.01.12 tahun 2017.

Untuk menyewa atau mengontrak tempat untuk sekretariat yang cukup sederhana, mereka berpatungan secara mandiri, yang berlokasi di Gang Asem Rt 03 Rw 08, Jalan Raya Jombang, Kp Gunung, Ciputat, Tangsel.

Menurut Turahno, lelaki asal Wonosobo yang tunanetra sejak kecil, yang "di dapuk" atau diangkat sebagai "Kepala Suku" atau Ketua yayasan, "di wilayah Tangsel, ada lebih dari 200 kepala keluarga warga tunanetra, kalau beserta anak isteti ada sekitar 800 jiwa. Dan hampir semua tidak memiliki dokumen kependudukan utamanya akta kelahiran".

Perkenalannya dengan petugas Dukcapil, Ibu Indana beserta kawan kawan, dan Institut Kewarganegaraan Indonesia (IKI) yang diwakili Prasetyadji peneliti senior pada hari ini, Rabu, 19 Desember 2018 disambut baik dan penuh pengharapan, semoga mereka bisa mendapatkan hak hak kependudukannya, kata Lagino.

Lebih lanjut dikatakan, "apabila kami sudah memiliki dokumen akta kelahiran, kami bisa mengakses fasilitas pemerintah yang merupakan hak kami sebagai warga negara Indonesia, seperti layanan BPJS dan sebagainya".

Semoga langkah langkah mandiri yang bermartabat dari saudara saudara kita warga tunanetra ini, dapat menginspirasi kita semua untuk lebih dapat menghargai perjuangan hidup, yang berwujud dalam karya yang dihasilkan sesama kita.
Semoga. (adji).

Add new comment

Plain text

  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.
CAPTCHA
This question is for testing whether or not you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.
1 + 5 =
Solve this simple math problem and enter the result. E.g. for 1+3, enter 4.