Kita Satu, Kita Sama, Kita Setara, Satu Tujuan: Indonesia

Jangan Tunda ke Pulau Tunda (?)

Tim IKI dan Para Relawan Siap Melayani Warga Pulau Tunda

Carilah di google, objek wisata yang terletak di sebelah utara-timur Kota Serang.  Kita akan menemukan Pulau Tunda, sebagai destinasi wisata yang menjadi andalan Kabupaten Serang.

Desa Wargasara yang masuk Kecamatan Tirtayasa,  sasaran kegiatan pelayanan keliling dokumen kependudukan 10-12 November, terletak di Pulau Tunda.
Desa yang secara  geografis dikelilingi lautan, terdiri atas tujuh  RT dan dua kampung, dihuni oleh 1.700 jiwa.

Biasa ditempuh dengan perjalanan laut selama dua setengah jam dari dermaga Karangantu,  Serang.
Sarana angkutan di  Pulau Tunda hanya menggunakan sepeda motor.  Tak ada satu pun mobil yang dimiliki warga,  yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai nelayan itu.  

Pulau Tunda dengan luas wilayah sekitar 300 hektar, dikelilingi pantai dengan air laut yang sangat bening dan jernih,  berwarna hijau kebiruan,  dan ditumbuhi terumbu karang  yang elok.

"Kata orang, menyelam di  laut di Pulau Tunda ini seperti menyelam di laut Bunaken di Sulut," ujar Syamsul Bahri,  kepala desa Wargasara, setengah promosi.

Hari minggu pagi,  usai subuh,  saya berjalan kaki menyusuri jalan  yang dilapisi paving block yang tidak terlalu lebar, menuju Pantai Utara, berpapasan dengan serombongan wisatawan lokal yang akan menyelam.  

Di google begitu mudah mendapatkan info tentang Pulau Tunda,  dan begitu gampang mendapatkan biro perjalanan yang menawarkan paket perjalanan ke Pulau Tunda.
Rata-rata paket penyeberangan ke sana ongkosnya Rp 2.5 jt.

Potensi Hebat Fasilitas Sekarat

Kemudahan mendapatkan info tentang pulau ini,  dan  potensi wisata  bahari Pulau Tunda yang mempesona,  ternyata tidak berbanding lurus dengan fasilitas dan akses untuk bisa menikmati keindahan pulau ini.

Sederet fakta minus dan serba mengenaskan tersaji di sana.

Yang paling vital,  tidak ada sambungan penerangan listrik PLN. Memang ironis,  saluran listrik yang menjadi nadi energi vital untuk menggerakkan industri pariwisata tidak tersedia di sana.
Satu-satunya energi listrik didapat dari PLTS (pembangkit listrik tenaga surya) dan PLTD yang hanya mampu memproduksi 50 kWp dan hanya bisa menerangi beberapa rumah dan  untuk mencharge hp pun tidak kuat.  
Karena keterbatasan daya listrik yang dihasilkan dari mesin pembangkit listrik,  masyarakat di sana hanya bisa menikmati penerangan listrik dari pukul 18.00 hingga 22.00. Di atas jam itu suasana seluruh kampung berubah menjadi gelap gulita.  

"Bagaimana wisata di sini bisa berkembang  kalau tidak ada penerangan seperti ini, Pak, " ujar Syamsul Bahri,  Kades Desa Wargasara setengah sambat.

Sewaktu pelayanan keliling selama tiga hari ini,  relawan IKI bersama petugas Dukcapil Kab.  Serang harus bekerja ngebut.

"Kami harus bekejar-kejaran dengan jadwal pemadaman listrik tepat pukul sepuluh malam," ujar seorang staf Dukcapil.

Selama tiga hari di pulau ini perangkat komunikasi HP mendapatkan kesempatan untuk rehat.  Tidak ada sinyal sama sekali,  kecuali HP yang menggunakan kartu XL.  

Dalam perbincangan dengan Tim IKI selama berada di Pulau Tunda, Kades merasa sudah kehilangan  akal untuk mencari solusi terhadap kondisi yang ada, sementara sudah berulang kali  mengadu ke Pemda Kabupaten atau ke Provinsi.

"Kalau Bapak deket ke Pak Jokowi tolong sampaikan jeritan masyarakat di sini," ujar Bahri penuh harap.

Kondisi sarana angkutan laut juga setali tiga uang dengan kondisi penerangan listrik.
Perahu untuk mengangkut orang dan barang sangat terbatas.  Penyeberangan Pulau Tunda-Karangantu di pinggir utara Serang hanya ada hari Senin, Rabu dan Sabtu. Dengan jadwal pemberangkatan dari Pulau Tunda pukul 08.00, dan  kembali dari dermaga Karangantu  pukul 14.00.
Jika kita hendak ke sana di luar jadwal tersebut,  maka harus merogoh kocek dalam-dalam, karena harus menyewa perahu sendiri dengan ongkos yang lumayan mahal.

Meski dipromosikan sebagai destinasi wisata alam andalan, jangan berharap bisa mencari kuliner di pulau ini. Hampir tidak ada warung makan,  atau pusat jajanan lokal.

Bunakennya Serang ini agaknya masih dibiarkan merana oleh Pemda.  

Beruntunglah Pulau Tunda punya  Syamsul Bahri,  kades setempat,  yang dengan gigih membangun sarana dan prasarana wisata di desa ini. Ia membangun fasilitas yang lumayan bagus dengan mengandalkan  sumberdaya sendiri.  Dermaga yang bersih, dan kamar-kamar penginapan dibangun dari anggaran ADD (Alokasi Dana Desa), dengan harapan bisa memikat hati wisatawan.
Tapi wisatawan agaknya enggan menginap di desa ini.  

"Bagaimana mau menginap kalau kondisi gelap gulita seperti ini.  Dan jaringan sinyal HP pun sulit didapat," tutur Kades, kembali menyatakan keluhannya.  

Melihat kondisi seperti ini, judul artikel ini lebih pas jika diubah menjadi,  "Tunda Dulu ke Pulau Tunda", sampai ada jaringan PLN ke kawasan ini,  dan tersedia transportasi laut setiap hari dari dan ke Pulau Tunda. (IKI-SM)

Add new comment

Plain text

  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.
CAPTCHA
This question is for testing whether or not you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.
1 + 8 =
Solve this simple math problem and enter the result. E.g. for 1+3, enter 4.