Kita Satu, Kita Sama, Kita Setara, Satu Tujuan: Indonesia

Dokumen Kependudukan dan Komunitas Samin yang Trendy

Pengurus, peneliti & relawan IKI bersama warga Samin

Seger Waras

Bukan main mubazirnya kalimat demi kalimat  yang saya sampaikan ketika memberikan  sambutan atas nama IKI,  saat membuka seminar tentang Pelayanan Dokumen Kependudukan bagi Kelompok Difabel dan Komunitas Adat, di Blora, hari Kamis, 22 November  kemarin. Pasalnya, sebagian besar audiens dalam seminar itu ternyata  tidak paham bahasa Indonesia. Mereka adalah warga masyarakat Samin, yang bermukim di daerah di sekitar pegunungan Kendeng, selatan Blora. Menyadari audiens yang seperti itu, ketika mempresentasikan makalah pada seminar itu, saya terpaksa beralih menggunakan bahasa Jawa secara penuh, meski dengan susah payah dan tertatih-tatih.

Materi tayangan dalam format power point yang saya persiapkan dengan penuh keseriusan, ikut merana. Jika saya sampaikan  apa adanya seperti aslinya,  hanya akan menjadi gambar dan ornamen hidup  yang enak dilihat tapi tidak bisa dipahami oleh masyarakat Samin yang sore kemarin mengenakan pakaian serba hitam.
Saya harus menjelaskan materi tayangan yang ada dengan bahasa Jawa campuran, ngoko dan kromo inggil.
Sesudah itu respons mereka menjadi berbeda. Mereka tampak serius mengikuti ucapan demi ucapan,  ikut tertawa ketika pembicaraan mengandung humor, dan sesekali  manggut-manggut,  menunjukkan kemengertiannya.

Hampir sama ketika menghadapi masyarakat suku Baduy di Lebak, beberpa waktu silam,
Komunitas Samin memiliki kemiripan dalam sejumlah hal. Misalnya dalam hal ketertiban dan kesopanan mengikuti forum resmi bersama kelompok masyarakat lain yang non-Samin. Mereka jarang berbicara. Satu-satunya kalimat yang sering meluncur dari bibir mereka, adalah kalimat "seger-waras".' Itu semacam kosakata wajib yang mengindikasikan keteguhan mereka dalam menjaga ikatan tradisi. Sapaan khas masyarakat Samin yang maksudnya doa dan harapan agar orang yang berada di sekitarnya bahagia dan sehat lahir dan batin.
Jika kita  berbicara, mengawali dengan ucapan assalamualaikum atau selamat siang, eloknya ditambahkan dengam salam khas masyrakat Samin, yaitu "seger-waras".'
Spontan akan terdengar jawaban serentak dari mereka, "seger-waras...".

Nama masyarakat Samin dinisbatkan dengan tokoh kelahiran Desa Ploso Kadhiren,  Randublatung, Blora tahun 1859, Samin Surosentiko. Tokoh yang juga populer dipanggil dengan Mbah Suro ini pada zamannya dikenal menjadi figur kunci perlawanan warga yang bermukim di sekitar pegunungan Kendeng menghadapi kepongahan Belanda.

Perlawanan warga Samin terhadap Belanda tidak diwujudkan dengan perlawanan fisik, melainkan dalam bentuk pembangkangan membayar pajak dan menolak mengikuti aturan Belanda.
Model perlawanan seperti itu justru sering membuat jengkel  Belanda.
Sejak penjajahan Belanda masyarakat Samin memilih mengisolasikan diri di pedalaman pegunungan Kendeng sampai tahun 1970 an. Ajaran dan tradisi Samin yang dibingkai dalam sebutan Sedulur Sikep, menjunjung tinggi sikap jujur, menganggap semua orang adalah saudara dan tidak berbeda. Pantang mencuri dan hidup menghindari hutang.  

Berumahtangga Tanpa Surat Nikah

Bersama kelompok penyandang cacat dan utusan organisasi kepemudaan, kemarin tokoh-tokoh masyarakat Samin menghadiri seminar yang diadakan oleh Institut Kewarganegaraan Indonesia (IKI) bekerjasama dengan Dinas Dukcapil Kab. Blora. Hadir sebagai pembicara dalam acara yang diselenggarakan di Hotel Kencana itu Kepala Dinas Dukcapil, Riyanto, cendekiawan Blora Solihin dan tokoh msyarakat Samin Mbah Narko.
Sebenarnya tokoh komunitas Samin yang lebih disepuhkan dan diharapkan untuk berbicara di forum itu juga hadir. Beliau adalah Mbah Rasiyo. Tapi yang bersangkutan mewakilkan kepada Mbah Narko untuk maju menjadi nara sumber.

"Mbah Rasiyo niki  piyambake mboten  kathah wicanten. Wekdal Pak Jokowi rawuh dateng warga Samin, piyambake nggih purun nemoni, diajak foto. Tapi mboten kathah wicanten," tutur Mbah Narko dalam bahasa Jawa,, yang artinya Mbah Rasiyo itu tidak banyak bicara. Sewaktu Pak Jokowi datang ke sana, dia juga berkenan menemui dan mau diajak foto bersama, tetapi beliau tidak banyak berbicara.

Dalam sessi dialog, tokoh masyarakat Samin menyampaikan banyaknya warga Samin yang bersuani istri hanya secara adat atau secara hukum Islam dan tidak mencatatkan perkawin mereka ke negara. Akibatnya, ketika mengurus akta kelahiran bagi anaknya,  dalam akta kelahiran tercantum hanya sebagai anak seorang ibu.
"Padahal anak-anak itu punya ayah yang sah, tetapi di dokumen hanya tertulis sebagai anak seorang ibu. Anak-anak yang tidak mengerti itu jadi bertanya-tanya koq gak ada nama ayahnya di akta kelahiran," ujarnya.

Sehubungan dengan banyaknya warga yang tidak memiliki akta nikah, muncul banyak usulan ke IKI agar diadakan program itsbat nikah bagi pasangan yang tidak memiliki akta nikah.

Trendy

Usai acara, ketika peserta  seminar  beranjak pulang ke  kediaman masing-masing, warga Samin masih bergerombol di halaman hotel. Mereka bercengkerama di antara sesama mereka, sambil menghisap rokok.
Berderet sepeda motor terparkir di parkiran motor Hotel Kencana yang masih tergolong baru itu.
Entah apa yang mereka tunggu.

Sejurus kemudian,  sebuah mobil sedan ukuran sedang keluar dari hotel. Ternyata mobil itu dikemudikan oleh Mbah Narko, yang juga mengenakan pakaian serba hitam dan udeng-udeng atau ikat kepala.khas warga Samin.  Mbah Narko yang ditokohkan itu tampak gagah berada di belakang kemudi.
Tidak lama setelah itu warga Samin yang berkerumun di halaman hotel itu berbondong-bondong keluar dari hotel, berboncengan mengendarai motor, sambil tetap menghisap rokoknya, penuh percaya diri.

Inilah yang berbeda, antara masyarakat Samin dengan warga suku Baduy. Jika warga Baduy ke mana-mana masih tetap "nyeker" dan pantang mengendarai kendaraan  bermotor, masyarakat Samin telah akrab dengan kendaraan bermotor.
"Mereka kini telah membuka diri dan biasa berinteraksi dengan dunia luar," tutur Mbak Narko. 

(IKI/SM)

Add new comment

Plain text

  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.
CAPTCHA
This question is for testing whether or not you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.
7 + 5 =
Solve this simple math problem and enter the result. E.g. for 1+3, enter 4.