Kita Satu, Kita Sama, Kita Setara, Satu Tujuan: Indonesia

Kasus Kewarganegaraan Tersisa

Peneliti IKI, Eddy Setiawan, Menerima Pengaduan dari Masyarakat

Institut Kewarganegaraan Indonesia adalah organisasi sosial yang dibentuk oleh tokoh-tokoh dari beragam latar belakang secara politik, suku, dan agama. IKI demikian singkatan yang disepakati para pengurus, didedikasikan untuk mengawal implementasi Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan Jo. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan, dan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis.

Kasus yang masih kerap ditemui sejak berdiri tahun 2006 hingga saat ini adalah permasalahan kewarganegaraan yang dialami suku Tionghoa, akibat berbagai kompleksitas persoalan di masa lalu yang sesungguhnya tidak dapat dijadikan alasan meragukan kewarganegaraan mereka yang telah lahir dan turun temurun sejak sebelum terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. UU Kewarganegaraan, Adminduk, dan Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis pun telah dengan sangat jelas mengatur, sehingga seharusnya sudah tidak ada lagi keragu-raguan atas status kewarganegaraan orang-orang Tionghoa dan sudah seharusnya sebagai WNI mereka diberikan pelayanan administrasi kependudukan sebagaimana diatur UU.

Aktivitas IKI salah satunya adalah menerima laporan dan melakukan pendampingan terhadap WNI yang masih mengalami perlakuan diskriminatif sebagaimana tersebut di atas untuk mendapatkan hak-haknya sebagai Warga Negara Indonesia yang memiliki kedudukan yang sama di depan hukum dan pemerintahan sebagaimana diatur konstitusi. Residu dari persoalan di masa lalu ini diharapkan segera tuntas pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo ini, dengan adanya pernyataan dari pemerintah agar petugas tidak meragukan kewarganegaraan seseorang hanya karena melihat ciri-ciri fisik, dan petugas perlu dibekali pengetahuan sejarah Administrasi Kependudukan dan Pencatatan Sipil yang memadai sehingga tidak salah mengidentifikasi hanya karena tidak familiar dengan dokumen-dokumen kependudukan versi lama. @esa

Add new comment

Plain text

  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.
CAPTCHA
This question is for testing whether or not you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.
5 + 8 =
Solve this simple math problem and enter the result. E.g. for 1+3, enter 4.

Berita

Suasana perekaman KTP Elektronik di Blora pada masa pandemi
New Normal Perekaman KTP
Peneliti Senior Institut Kewarganegaraan Indonesia (IKI) Prasetyadji bersama Staf IKI Indah Widiyani, Risma Nuraini dan Yesaya sedang membantu pengisian berkas permohonan akta kelahiran bagi anak-anak Panti Asuhan Griya Asih, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, di Sekretariat IKI Wisma46 Lantai 14 Kota BNI, Jalan Jenderal Sudirman Kav 1 Jakarta, untuk diserahkan ke Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Propinsi DKI Jakarta. 4/2/2020.
Lahir dan Besar di Panti Asuhan
Sapto BW didampingi Sofian mewakili Dinas Dukcapil Propinsi DKI Jakarta menyerahkan akta kelahiran warga pemulung kepada Peneliti IKI Swandy Sihotang didamping Prasetyadji, di Jakarta 28/1/2020.
IKI Dukung Disdukcapil DKI Jakarta Fasilitasi Komunitas Pemulung & Anak Jalanan
Sekjen MPR RI Apresiasi IKI Terbitkan Buku Risalah Pembentukan UU Kewarganegaraan
Begini Cara Kerja Mesin Anjungan Dukcapil Mandiri

Copyright © 2016.Institut Kewarganegaraan Indonesia, Wisma 46, Lantai 14, Ruang 14-16, Kota BNI, Jl Jenderal Sudirman Kav. 1, Jakarta Pusat (10220).