Kita Satu, Kita Sama, Kita Setara, Satu Tujuan: Indonesia

Disdukcapil Cilacap Catatkan Perkawinan Penghayat Kepercayaan

Iceng Putra Inata (27) bersama istrinya Ami Alifah (27) kedua mempelai penghayat kepercayaan

Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Cilacap resmi mencatat perkawinan sepasang pengantin dari penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa asal Kecamatan Adipala, Kamis (20/4/2018) sore. Pencatatan perkawinan ini dilakukan setelah tiga tahun lamanya perkawinan mereka baru dilakukan di tingkat penghayat kepercayaan.

Iceng Putra Inata (27) bersama istrinya Ami Alifah (27) datang ke kantor Disdukcapil didampingi keluarga, kerabat, para saksi dan kelompok penghayat kepercayaan yang tergabung dalam Majelis Luhur Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa Indonesia (MLKI) Cilacap.

Pencatatan perwakinan dilakukan di sebuah ruangan yang diperuntukkan perkawinan non-muslim. Petugas pencatat perwakinan AT Wibowo bersama seorang staf selanjutnya melakukan pemeriksaan dan verifikasi berkas  mengajukan beberapa pertanyaan sebagai konfirmasi data yang sudah tertulis termasuk status keduanya.

Setelahnya kedua mempelai bersama para saksi menandatangani berkas pencatatan perkawinan sebagai data resmi untuk penerbitan akta perkawinan. AT Wibowo menyatakan pelayanan pencatatan perkawinan kelompok penghayat mendasari  PP 37/ 2007 tentang pelaksanaan Undang-undang nomor 23 tahun 2006 tentang administrasi kependudukan.

“Tidak ada perbedaan dalam persyaratan perkawinan kelompok penghayat dengan pemeluk agama lainnya,” jelasnya. Sejak terbitnya PP 37 tahun 2007 tersebut pihaknya sudah mencatat sedikitnya 120 perkawinan penghayat kepercayaan di Kabupaten Cilacap.

Iceng dalam keterangannya mengaku lega perkawinannya kini sudah sah dan resmi tercatat di dokumen pemerintah setelah tiga tahun menikah secara adat kepercayaan. “Lega, semua berjalan lancar. Terimakasih Disdukcapil sudah membantu pencatatan perkawinan kami,” jelasnya.

Sekretaris MLKI Cilacap  Muslam menerangkan perkawinan di kalangan penghayat terbagi dalam dua prosesi utama yakni Polokromo dan Silokromo. Polokromo adalah proses perkawinan secara adat oleh orang tua atau wali atau pihak yang dikuasakan dilanjutkan dengan pencatatan resmi dalam lembaran Negara melalui Discukcapil.

“Sedangkan Silokromo adalah upacara adat perkawinan dengan melakukan beberapa urutan prosesi mulai lempar daun sirih hingga sungkeman,” ujarnya. Pihaknya menyambut baik pelayanan hak yang sama bagi para penghayat sebagai bukti kehadiran Negara bagi kelompok minoritas.

Usai pencatatan perkawinan dilanjutkan dengan prosesi sederhana pemberian ucapan selamat dari para keluarga dan doa bersama di sanggar tari Giyan Laksita Cilacap.(editor)

______________________________

sumber:

http://www.rri.co.id/post/berita/517471/ruang_publik/perkawinan_penghaya...

 

Add new comment

Plain text

  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.
CAPTCHA
This question is for testing whether or not you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.
4 + 3 =
Solve this simple math problem and enter the result. E.g. for 1+3, enter 4.