Kita Satu, Kita Sama, Kita Setara, Satu Tujuan: Indonesia

Dinas Dukcapil Blora dan Boyolali Terpaksa Barter Barang

Suasana Yanling Kab. Blora di sebuah pendopo desa

Di sebuah tempat, di daerah perbatasan Blora dan Boyolali, dua orang petugas Disukcapil Blora dan Boyolali bertemu. Mereka sudah membuat janji sebelumnya. Dalam pertemuan, kedua utusan  itu menyerahkan bingkisan barang yang berbeda jenis.

Apa yang mereka lakukan di perbatasan itu? Apakah mereka mempertukarkan bingkisan terlarang, sehingga harus bertemu di kota kecil di daerah perbatasan dua kabupaten di Jateng itu?

Ternyata dua bingkisan itu berisi tinta merk Ribbon dan blangko kartu KK. Dukcapil Boyolali perlu tinta sementara Dukcapil Blora perlu blangko KK. Saling pinjam bangko atau tinta antarkantor Dukcapil di banyak daerah selama ini merupakan hal yang lazim. Ini dilakukan agar pelayanan publik tetap bisa berjalan meskipun persediaan blangko atau tinta lagi kosong.

"Kami sering bergantian pinjam blangko atau tinta (printer) dengan Dukcapil Boyolali," ujar Mariyanto, Kepala Dinas Dukcapil Kabupaten Blora. Supaya mudah, maka mereka janjian  bertemu di daerah yang posisinya tengah-tengah antara Blora dan Boyolali.

Itu salah satu kondisi dan problem  yang sering dihadapi Disdukcapil di daerah terkait keterbatasan pengadaan barang yang diperlukan untuk melayani penduduk. Jika Disdukcapil menghadapi masalah kelangkaan blangko atau tinta seperti itu, untuk menyiasatinya agar pelayanan tidak mandeg adalah dengan cara pinjam blangko yang diperlukan ke Disdukcapil tetangga yang persediaannya masih cukup.

"Sekarang ini kami harus siap-siap mengembalikan blangko KK milik Boyolali," ujar Riyanto kepada IKI, di sela-sela kegiatan pelayanan keliling di Blora, 13 Maret kemarin.

Pelayanan keliling yang diselenggarakan kerjasama Disdukcapil Blora dengan IKI disambut antusias oleh warga di desa Medalem dan sekitarnya di Kecamatan Kradenan. Ibu Lurah Medalem semula sempat ragu2 untuk mengadakan yanling karena ada rasa trauma karena pengalaman beberapa tahun silam.

Waktu itu diadakan yanling serupa. Karena tidak ada sinyal maka berkas2 dibawa ke kantor Disdukcplil di Blora. Entah kenapa, dari sekitar seratusan berkas pemohon itu hanya bisa terbit kurang dari 20 akta kekahiran. Sementara sisanya tidak diketahui nasibnya. (SM/IKI)

 

Add new comment

Plain text

  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.
CAPTCHA
This question is for testing whether or not you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.
2 + 9 =
Solve this simple math problem and enter the result. E.g. for 1+3, enter 4.