Kita Satu, Kita Sama, Kita Setara, Satu Tujuan: Indonesia

Dari Kamp hingga “Doli”

Pendampingan pengurusan dokumen kependudukan dan pencatatan sipil selama ini dilakukan Institut Kewarganegaraan Indonesia (IKI) melalui para relawan sebagai ujung tombak, guna memastikan setiap warganegara Indonesia terpenuhi haknya sebagai WNI. Relawan IKI di Kabupaten Tangerang yang dimotori Ridwan sejak setahun terakhir ini telah melaksanakan pendampingan  masyarakat di wilayah Kabupaten Tangerang.

Kamis, 22 September 2016,  IKI mengadakan pertemuan untuk koordinasi dan konsolidasi sekitar 15 orang  relawan (yang sebagian besar Ketua RT) di Kabupaten Tangerang.  Di forum itu dibahas  berbagai dinamika dan kendala yang dihadapi di lapangan selama ini, dan bagaimana solusinya, mematangkan persiapan pelaksanaan kawin massal, dan rencana pelatihan/workshop para relawan  di bulan Oktober nanti. Selain relawan, hadir juga beberapa tokoh masyarakat yang selama ini juga turut membantu para relawan dalam menginformasikan dan meyakinkan masyarakat untuk mengurus akta kelahiran.

Acara dihadiri Saifullah Ma’shum selaku Ketua IKI, didampingi para peneliti IKI,  Prasetiyadji, Eddy Setiawan, dan Swandy. Ma’shum dalam sambutannya memberikan apresiasi atas kerja-kerja para relawan dan dukungan tokoh masyarakat di Kabupaten Tangerang,  sehingga Nota Kesepahaman IKI dengan Pemerintah Kabupaten Tangerang memiliki makna dan bermanfaat bagi masyarakat yang membutuhkan. Acara yang berlansung hangat dan penuh kekeluargaan tersebut diadakan di daerah Pakuaji.

Saifullah Ma’shum mengungkapkan juga bahwa selain tujuan tersebut di atas, acara ini juga diharapkan dapat mempererat hubungan seluruh relawan dan tokoh yang hadir sehingga ke depan kerja-kerja pendampingan dapat dilaksanakan semakin baik. “Komunikasi antarrelawan, tokoh, petugas harus dibangun dengan baik, jangan sampai ada kesalahpahaman, karena kerjaan kita ini adalah kerja sosial,” ungkapnya.

Dalam forum itu para relawan juga menceritakan pengalaman masing-masing bagaimana melakukan pendekatan ke masyarakat yang tidak semudah yang diperkirakan. Banyak kendala dihadapi, seperti  bertemu orang-orang yang awalnya merasa terganggu oleh aktivitas relawan IKI, keberadaan wilayah yang disebut “kamp” di daerah Tangerang, hingga ancaman oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Kamp ini menurut Ang Wiliang salah seorang tokoh sepuh yang berdomisili di Sepatan Timur, adalah tempat penampungan orang-orang Tionghoa pada jaman dahulu, “Saya juga hanya dapat cerita dari orang-orang tua dulu, bahwa daerah itu disebut “kamp” karena jadi tempat penampungan orang Tionghoa yang melarikan diri dari Batavia ke Tangerang” ujarnya. Sementara Ridwan selaku relawan IKI menyatakan bahwa di “kamp” ini terdapat sekitar 3.000 jiwa, atau sekitar 600-an KK, “kondisinya cukup memprihatinkan, dan masih banyak yang tidak memiliki dokumen kependudukan dan pencatatan sipil, sebagian ada yang punya KTP tapi tidak punya KK” ungkap Ridwan saat menyampaikan temuannya.

Relawan juga mengungkapkan berbagai kasus yang ditemui, seperti keluarga yang Kartu Keluarga (KK)-nya tidak pernah diperbaharui, orang yang memiliki KTP tanpa KK, anak panti asuhan yang ternyata masih ikut KK orang tua di luar Kabupaten Tangerang. Sebagian besar  panti suhan tidak memiliki KK sendiri  bagi anak-anak yang diasuhnya. Juga sikap apatis masyarakat, hingga persoalan sosial yang dihadapi masyarakat di luar akta kelahiran, yaitu persoalan minimnya kepemilikan jamban keluarga  sehingga banyak menimbulkan persoalan di masyarakat.

“Di daerah Surya Bahari ini dikenal ada  ‘Doli’.  Modol (buang kotoran, Red.) di kali. Seperti yang Bapak-Bapak liat sendiri tadi di sepanjang sungai,” ujar salah seorang relawan.  

Pengurus dan peneliti IKI yang hadir kemudian memberikan tanggapan, berbagi pengalaman, dan saran terkait berbagai persoalan teknis yang dihadapi para relawan di lapangan. Saifullah Ma’shum saat menutup acara menyampaikan kepada seluruh relawan agar tetap menjaga soliditas, menjaga hati karena pekerjaan ini membutuhkan kesabaran dalam menghadapi berbagai sifat masyarakat dari yang mudah diajak bekerjasama hingga yang acuh tak acuh karena tidak merasa membutuhkan dokumen-dokumen tersebut.

Ma’shum minta relawan untuk  memiliki kesabaran yang tinggi dalam mendampingi masyarakat, karena memang belum tentu mereka paham bahwa dokumen kependudukan dan pencatatan sipil itu sangat penting bagi diri dan keluarganya.

“Persoalan minimnya kepemilikan sarana MCK kami akan coba sampaikan kepada pihak terkait, semoga ada jalan keluarnya,” ujar Ma’shum.  @esa

Add new comment

Plain text

  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.
CAPTCHA
This question is for testing whether or not you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.
2 + 0 =
Solve this simple math problem and enter the result. E.g. for 1+3, enter 4.

Berita

Suasana perekaman KTP Elektronik di Blora pada masa pandemi
New Normal Perekaman KTP
Peneliti Senior Institut Kewarganegaraan Indonesia (IKI) Prasetyadji bersama Staf IKI Indah Widiyani, Risma Nuraini dan Yesaya sedang membantu pengisian berkas permohonan akta kelahiran bagi anak-anak Panti Asuhan Griya Asih, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, di Sekretariat IKI Wisma46 Lantai 14 Kota BNI, Jalan Jenderal Sudirman Kav 1 Jakarta, untuk diserahkan ke Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Propinsi DKI Jakarta. 4/2/2020.
Lahir dan Besar di Panti Asuhan
Sapto BW didampingi Sofian mewakili Dinas Dukcapil Propinsi DKI Jakarta menyerahkan akta kelahiran warga pemulung kepada Peneliti IKI Swandy Sihotang didamping Prasetyadji, di Jakarta 28/1/2020.
IKI Dukung Disdukcapil DKI Jakarta Fasilitasi Komunitas Pemulung & Anak Jalanan
Sekjen MPR RI Apresiasi IKI Terbitkan Buku Risalah Pembentukan UU Kewarganegaraan
Begini Cara Kerja Mesin Anjungan Dukcapil Mandiri

Copyright © 2016.Institut Kewarganegaraan Indonesia, Wisma 46, Lantai 14, Ruang 14-16, Kota BNI, Jl Jenderal Sudirman Kav. 1, Jakarta Pusat (10220).